Salah satu stasiun TV menayangkan sebuah program acara yang bernama “Masterchef Indonesia”. Para peserta dalam acara ini berasal dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda-beda, namun punya hobby yang sama, yaitu masak-memasak. Sekalipun mereka bukan ahli, namun mereka berupaya untuk menyajikan masakan sesempurna mungkin. Dengan segenap hati mereka mengerjakan bagian mereka masing-masing. Totalitas, inilah yang sebuah nilai yang diajarkan kepada saya.
Bagaimana dengan pelayanan di gereja? Ketika kita dipercayakan sebuah tanggung jawab, adakah kita mengerjakannya dengan segenap hati? Ataukah kita sudah merasa puas dengan pelayanan yang ala kadarnya? Malah mungkin ada yang berkata dalam hati “Sudah syukur saya mau melayani, tidak dibayar tidak digaji!” Pelayanan menjadi sekadar rutinitas dan formalitas; bukan lagi karena dorongan cinta pada-Nya.
Dalam sebuah pelayanan gerejawi ada banyak orang yang melibatkan diri. Diantara mereka tentu ada yang bersungguh hati melayani Tuhan. Alangkah sayangnya jika waktu, tenaga, dan uang yang dikorbankan, hanya dimanfaatkan sekenanya saja sehingga hasilnya pun hanya ala kadarnya. Belum lagi jika kita memikirkan kasih Tuhan. Jangankan Tuhan, kita pun akan kecewa, jika kasih dan pengorbanan hanya dihargai seadanya saja. Mari melayani Tuhan dengan totalitas, bukan ala kadarnya!
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.(Kolose 3:23)