Antara Status dan Pengabdian

Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus (Mar 15:43).

Bacaan: Markus 15:42-4

Salah satu jenis pelayanan yang tergolong sulit adalah mengurus jenazah atau pemakaman.  Apalagi jika jenazah itu punya embel-embel “Terpidana Mati”, biasanya orang-orang akan menghindar jauh.  Mengapa dihindari? Karena selain merepotkan, hal tersebut juga dapat dipandang sebagai aib yang menurunkan harga diri atau status sosial seseorang. Lanjut membaca

Belajar dari Kegagalan Petrus

Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Lukas 22:61-62)

Bacaan: Lukas 22:54-62

Penyangkalan Petrus terhadap Tuhan Yesus dapat dipandang sebagai sebuah kegagalan.  Namun kegagalan Petrus bukanlah kegagalan dari seorang yang enggan masuk ke medan perjuangan.  Bukan pula kegagalan seorang prajurit yang mundur dari medan laga. Petrus adalah salah satu dari dua orang murid yang tetap mengikut Yesus di saat-saat yang penuh teror itu. Bahkan di rumah Imam Besar itu, Petrus duduk begitu dekat dengan Yesus (ay.55). Kegagalan Petrus adalah kegagalan seorang murid yang berusaha untuk setia kepada Gurunya.

Salah satu penyebab kegagalan Petrus ialah keyakinannya yang terlalu besar pada dirinya sendiri. Lanjut membaca

Antara Masterchef dan Pelayan Gereja

Salah satu stasiun TV menayangkan sebuah program acara yang bernama “Masterchef Indonesia”.  Para peserta dalam acara ini berasal dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda-beda, namun punya hobby yang sama, yaitu masak-memasak. Sekalipun mereka bukan ahli, namun mereka berupaya untuk menyajikan masakan sesempurna mungkin. Dengan segenap hati mereka mengerjakan bagian mereka masing-masing. Totalitas, inilah yang sebuah nilai yang diajarkan kepada saya.

Bagaimana dengan pelayanan di gereja? Ketika kita dipercayakan sebuah tanggung jawab, adakah kita mengerjakannya dengan segenap hati? Ataukah kita sudah merasa puas dengan pelayanan yang ala kadarnya?  Malah mungkin ada yang berkata dalam hati “Sudah syukur saya mau melayani, tidak dibayar tidak digaji!” Pelayanan menjadi sekadar rutinitas dan formalitas; bukan lagi karena dorongan cinta pada-Nya.

Dalam sebuah pelayanan gerejawi ada banyak orang yang melibatkan diri.  Diantara mereka tentu ada yang bersungguh hati melayani Tuhan.  Alangkah sayangnya jika waktu, tenaga, dan uang yang dikorbankan, hanya dimanfaatkan sekenanya saja sehingga hasilnya pun hanya ala kadarnya.  Belum lagi jika kita memikirkan kasih Tuhan. Jangankan Tuhan, kita pun akan kecewa, jika kasih dan pengorbanan hanya dihargai seadanya saja.  Mari melayani Tuhan dengan totalitas, bukan ala kadarnya!

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.(Kolose 3:23)

Sekilas Pelatihan Leadership Capacity Building 2011

Selama hampir sebulan, yaitu tanggal 12 September 2011 sampai tanggal 07 Oktober 2011, telah diadakan pelatihan Leadership Capacity Building (LCB) di kota Surakarta dan Jogjakarta.  Pelatihan ini merupakan program kerja sama antara Center for Development and Culture (CDC), Departemen Koinonia PGI, Yayasan Pamerdi Luhur (YPL), dan Mennonite Diakonia Service (MDS).  Pelatihan ini diikuti oleh 27 orang peserta, yang merupakan utusan sinode anggota PGI, utusan gereja-gereja di Malaysia, dan juga utusan Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia.  Adapun saya berkesempatan mewakili Sinode GKKA INDONESIA. Lanjut membaca

Melihat Derita Melalui Salib (1)

Rom 5:8  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Penderitaan manusia menjadi realitas keseharian kita.  Serasa tak habis kita menyaksikan tragedi kemanusiaan, kemiskinan dan kelaparan, tirani dan penyiksaan, penyakit dan kematian.  Di tengah paparan penderitaan, manusia bertanya: “Dimanakah Allah yang penuh kasih itu?  Adakah Dia berdiam diri saja?” Lanjut membaca

Perdamaian dan Keadilan: Sebuah Ziarah

Dalam aksara China, kata  he ping digunakan untuk menggambarkan makna perdamaian.  Aksara ini menunjukkan bahwa perdamaian baru akan terwujud kalau pangan dibagikan pada semua mulut dengan adil merata.  Menurut pengertian kata ini, perdamaian mencakup dimensi kesejahteraan material, keadilan sosial, dan integritas moral dari dan bagi setiap orang. Atau dengan kata lain, perdamaian tanpa keadilan merupakan suatu bentuk penindasan. Lanjut membaca

Memaknai Kata “Ewako”

Sebuah Pendekatan Kultural Bugis-Makassar

Ewako atau rewako adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis-Makassar.  Penyebutan kata ewako biasanya digandengkan dengan sebuah komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.  Para suporter PSM[1] memekikkan “Ewako PSM” ketika tim kebanggaannya berlaga di lapangan hijau.  “Rewako Gowa” juga terukir indah pada sebuah tebing, sebelum masuk ke kota bunga Malino nan sejuk.  Kata ewako telah berfungsi sebagai pembakar solidaritas masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis-Makassar. Lanjut membaca

Arti Panggilan-Mu

Ibu Pertiwi menangis.  Negeri yang dibesarkan dengan peluh dan darah-Nya, diserobot oleh anak-anaknya sendiri.  Mereka berhati korup, tak segan merusak alam, tak risih merusuh damai. Korban pun berjatuhan, saudara sendiri dimiskinkan, ditindas dan dirampas hak-haknya. Lanjut membaca

Belajar dari Chairil Anwar

Chairil Anwar (1922-1949)

Pada tahun 1943, Chairil Anwar, seorang penyair Indonesia, menulis  sebuah puisi yang diberinya judul “Aku”.  Puisi itu berbunyi demikian:

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Dalam puisi ini, Chairil Anwar menyebut dirinya sebagai “binatang jalang”. Lanjut membaca