Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus (Mar 15:43).
Bacaan: Markus 15:42-4
Salah satu jenis pelayanan yang tergolong sulit adalah mengurus jenazah atau pemakaman. Apalagi jika jenazah itu punya embel-embel “Terpidana Mati”, biasanya orang-orang akan menghindar jauh. Mengapa dihindari? Karena selain merepotkan, hal tersebut juga dapat dipandang sebagai aib yang menurunkan harga diri atau status sosial seseorang.
Yesus pun seorang terpidana mati. Dia divonis dalam sebuah pengadilan yang tidak adil. Pontius Pilatus, sang hakim, menjatuhkan hukuman salib, demi memuaskan hati orang banyak dan demi mempertahankan statusnya sebagai “sahabat kaisar”.
Lain sikapnya dengan Yusuf dari Ariamatea, yang juga memiliki status terpandang di masyarakat. Yusuf adalah salah seorang anggota Mahkamah Agama yang terkemuka. Yusuf rela mempertaruhkan statusnya demi meminta dan mengurus jenazah Yesus. Dia rela menanggung resiko dipermalukan, ditinggalkan, bahkan dibenci oleh kawan-kawannya, demi melayani Yesus.
Di hadapan Yesus, Sang Terpidana Mati itu, sesungguhnya tidak ada status yang layak untuk kita pertahankan. Status-Nya sebagai Sang Guru, Juruselamat, bahkan Anak Allah justru seharusnya membuat kita melayani-Nya dengan penuh hormat dan takzim. Sesungguhnya pengorbanan kita terlalu kecil jika dibandingkan dengan kasih dan pengorbanan-Nya. Hari ini Dia berkata: sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40). Bersediakah kita melayani-Nya sekalipun di tempat yang tidak terpandang?
Doa: Tuhan, berikan saya keberanian untuk melayani Engkau sekalipun di ladang yang lebih merepotkan dan dipandang rendah oleh manusia.